#1#
Kabut
mengelana
Diantara
ada dan hampa
Dan
diantara kilasan kaca, siluetmu mengada
Mengaburkanku
dalam fatamorgana
Dan
kau, Aprodhitte-ku, selalu ada di sana
Bidadari
dengan ribuan sayap pelangi
menjulang
menyaingi matahari
Dan
siapakah yang sanggup menatapmu tanpa turut terpesona
Sedang
bunga mampu mengembang di luar musimnya
Dan
aku terpaku bayangmu
Menatap
ngilu pada kakiku
Hingga
tak pernah berhenti bertanya
Adakah
engkau benar-benar nyata?
Dan
kita masih terpisah dalam dimensi Jurang kelam pikiranku sendiri
Padahal
aku hanya ingin menyapa sesekali
“selamat
pagi, bidadari !”
#2#
Seperti
pelangi, usai hujan, saat kelam mulai sirna
Tetes
demi
tetes mengalir, mendekap kelembapan,
Menggores
kanvas awan
Melukiskanmu,
aprodhitte, merupakan obsesi
Dengan
tinta kenangan akan shilluetmu yang menawan
Diantara
deru angin, dan tatap yang enggan berpaling
Melukismu,
Aproditte, merupakan impian
Impian
akan masa yang mungkin kan selamanya hanya akan jadi fatamorgana
Diantara
pemisah yang tak kan pernah bisa ditembus
sebuah
gapura
Dengan
gerbang yang telah hilang sebelah daunnya
Melukismu,
Aprodhitte,
Adalah
pekerjaan yang tidak akan pernah usai
Disetiap
perhentian tinta, selalu ada warna yang lupa tercerna
Setitik
imagi yang muncul tiba-tiba di hati
Mungkin
kelak kukan berhenti
Seperti
hari-hari yang berganti
Saat
seseorang,
entah
siapa,
Mengulurkan
tangannya
#3#
Sebaris
kabut menyapa
Kepada
teman lama yang bertahun membatu
Berlapis
lumut berebut
Berdiri
menyemut di atas rambut
Sekeping
dada masih merongga hampa
Kehilangan
belahan jiwanya
‘wahai
batu, apa yang membuatmu menunggu?’
‘bertahun
berlalu dan kau masih saja membisu”
Namun
sang batu masih terus membisu
Hanya
matanya meneteskan air mata
Pada
kekosongan dada
yang lama membunuhnya
#4#
Di
tiap semburat
Ada
dekap yang mendayu, Pada kerinduan
Seperti
mengeja cahaya
Pada
setiap larik yang tersisa
Dan
sebentar saja sebuah pelangi menari
Merayakan
matahari
Akankah
ada waktu
Dimana
tak ada lara menyapa
Tak
ada gundah di dada
Akankah
ada waktu
Tuk
aku bisa memilikimu?
Duduk
bersimpuh memandangmu?
#5#
Kutahu
ku tak pantas memandangmu
Duhai
sang putri
Putra
tunggal sang mentari
Kutahu
ku hanya akan bermimpi
Pengelana
tanpa renjana
Di
tepian sesar antariksa
#6#
Di
angkasa pelangi menari
Bersama
desah hujan yang datang
Merayakan
cinta yang hilang
#7#
Kabut
bulan juli menggantung di jendela
Dan
seperti biasa, embunnya menggigilkan bunga-bunga
Sebaris
nafas melayang,
Menguap
di antara bintang
Menunduk
terluka
mengejar
sepasang bangau diangkasa