Minggu, 10 Januari 2016

KELANA KABUT



#1#
Kabut mengelana
Diantara ada dan hampa
Dan diantara kilasan kaca, siluetmu mengada
Mengaburkanku dalam fatamorgana

Dan kau, Aprodhitte-ku, selalu ada  di sana
Bidadari dengan ribuan sayap  pelangi
menjulang menyaingi matahari

Dan siapakah yang sanggup menatapmu tanpa turut terpesona
Sedang bunga mampu mengembang di luar musimnya

Dan aku terpaku bayangmu
Menatap ngilu pada kakiku
Hingga tak pernah berhenti bertanya
Adakah engkau benar-benar nyata?

Dan kita masih terpisah dalam dimensi Jurang kelam pikiranku sendiri
Padahal aku hanya ingin menyapa sesekali
“selamat pagi, bidadari !”







#2#
Seperti pelangi, usai hujan, saat kelam mulai sirna
Tetes  demi  tetes mengalir, mendekap kelembapan,
Menggores kanvas awan

Melukiskanmu, aprodhitte,   merupakan obsesi
Dengan tinta kenangan akan shilluetmu yang menawan
Diantara deru angin, dan tatap yang enggan berpaling

Melukismu, Aproditte, merupakan impian
Impian akan masa yang mungkin kan selamanya hanya akan jadi fatamorgana
Diantara pemisah yang tak kan pernah bisa ditembus
sebuah gapura
Dengan gerbang yang telah hilang sebelah daunnya


Melukismu, Aprodhitte,
Adalah pekerjaan yang tidak akan pernah usai
Disetiap perhentian tinta, selalu ada warna yang lupa tercerna
Setitik imagi yang muncul tiba-tiba di hati

Mungkin kelak kukan berhenti
Seperti hari-hari yang berganti

Saat seseorang,
entah siapa,
Mengulurkan tangannya


#3#
Sebaris kabut menyapa
Kepada teman lama yang bertahun membatu

Berlapis lumut berebut
Berdiri menyemut di atas rambut
Sekeping dada  masih merongga hampa
Kehilangan belahan jiwanya

‘wahai batu, apa yang membuatmu menunggu?’
‘bertahun berlalu dan kau masih saja membisu”

Namun sang batu masih terus membisu
Hanya matanya meneteskan air mata
Pada kekosongan dada
 yang lama membunuhnya


#4#
Di tiap semburat
Ada dekap yang mendayu, Pada kerinduan

Seperti mengeja cahaya
Pada setiap larik yang tersisa
Dan sebentar saja sebuah pelangi menari
Merayakan matahari

Akankah ada waktu
Dimana tak ada lara menyapa
Tak ada gundah di dada

Akankah ada waktu
Tuk aku bisa memilikimu?
Duduk bersimpuh memandangmu?


#5#
Kutahu ku tak pantas memandangmu
Duhai sang  putri
Putra tunggal sang mentari


Kutahu ku hanya akan bermimpi
Pengelana tanpa renjana
Di tepian sesar antariksa




#6#
Di angkasa pelangi menari
Bersama desah hujan yang datang
Merayakan cinta yang hilang



#7#
Kabut bulan juli menggantung di jendela
Dan seperti biasa, embunnya menggigilkan bunga-bunga

Sebaris nafas melayang,
Menguap di antara bintang
Menunduk terluka
mengejar sepasang  bangau diangkasa





Tidak ada komentar:

Posting Komentar